Anisaharirohbintiumar's Blog

Ballighu `anni walu ayat.com weblog

analisis Materi Pendidikan Agama Islam III FIQIH kelas IV MI Semester 1 15/01/2011

ANALISIS MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM III

FIQIH KELAS IV MI SEMESTER 1

Ujian Akhir Semester

Oleh :

ANISA HARIROH

NIM. 08110029

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS AGAMA ISLAM

JURUSAN TARBIYAH

2011

ANALISIS MATERI PAI III
KELAS IV MADRASAH IBTIDAIYAH SEMESTER I
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Uraian Materi TM Metode Media Lingkungan Evaluasi
Sekolah Masyarakat Tertulis Lisan
1. 

Mengetahui ketentuan zakat

1.1 Menjelaskan macam-macam zakat a. Pengertian zakat 2 TM (4×35 menit) peta konsep, ceramah, tanya jawab bagan, kertas manila, papan tulis a.Penugasan dari guru, agar siswa 

menunaikan zakat fitrah di sekolah

b. Siswa mengumpulkan zakat di sekolah

c. Siswa mendistribusikan zakat pada yang berhak menerima dari sekolah kepada masyarakat

 

materi berhubungan dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat terutama saat bulan Ramadhan, Siswa mendistribusikan kepada yang berhak menerima di masyarakat pemberian soal, tugas portofolio di rumah, ulangan harian Siswa diminta menjawab pertanyaan guru secara lisan, menjawab pertanyaan problem solving
1.2 Menjelaskan ketentuan zakat fitrah b. Macam-macam zakat, yaitu zakat fitrah dan zakat mal ceramah, peta konsep, game,drill bagan, kertas manila, sosiodrama
c. hukum mengeluarkan zakat ceramah, peta konsep, drill bagan, Al-Quran, buku paket
d. ketentuan wajib zakat 1 TM (2×35 menit) ceramah, peta konsep,drill bagan, Al-Quran, buku paket
e. golongan yang berhak menerima zakat .f. Golongan yang tidak berhak menerima zakat ceramah, peta konsep, game,drill sosiodrama, game
1.3 Mempraktekkan tata cara zakat fitrah praktik zakat fitrah latihan soal 1 TM (2×35 menit) ceramah, demonstrasi sosiodrama, game ujian praktik tanya  jawab secara langsung
2. Mengenal ketentuan infak dan shadaqah 2.1 Menjelaskan ketentuan infak dan shadaqah a. Pengertian infak dan hukumnya 1 TM (2×35 menit) peta konsep, ceramah, tanya jawab, drill sosiodrama, game penugasan dari guru agar siswa melaksanakan infak pada hari jum’at di sekolah. Guru selalu memotivasi murid untuk shadaqah di sekolah walaupun hanya menyingkirkan batu di jalan, atau tersenyum pada temannya penugasan dari guru agar siswa melaksanakan infak minimal seminggu sekali di masyarakat. Guru selalu memotivasi murid untuk shadaqah pada keluarga, masyarakat (lingkungan) walaupun hanya menyingkirkan batu di jalan, atau tersenyum pada teman, keluarga, tetangganya pemberian soal essay, tugas portofolio, ulangan harian Siswa diminta menjawab pertanyaan guru secara lisan berkaitan dengan materi infak dan shadaqah
b. Manfaat dan kegunaan infak ceramah, tanya jawab, Inkuiri (penemuan) sosiodrama, game
c. Pengertian shadaqah dan hukumnya peta konsep, ceramah, tanya jawab, drill sosiodrama, game
d. rukun shadaqah ceramah, peta konsep, game,drill sosiodrama, game
e. Memberikan shadaqah ceramah, peta konsep, game,drill sosiodrama, game
f. Manfaat dan kegunaan shadaqah ceramah, peta konsep, game,drill sosiodrama, game
g. Perbedaan infak dan shadaqah ceramah, peta konsep, game,drill Kertas manila tugas di rumah mengerjakan soal yang diberikan guru
2.2 Mempraktikkan tata cara infak dan shadaqah praktik infak dan shadaqah dan latihan soal untuk ujian akhir semester 1 TM (2×35 menit) ceramah,demonstrasi, Tanya jawab sosiodrama, game ujian praktik tanya  jawab secara langsung
UJIAN AKHIR SEMESTER 1

Analisis Perkembangan siswa

NoSK Uraian materi Perkembangan Siswa Kemampuan Siswa Hasil
Kognitif Afektif Psikomotorik Tinggi Sedang Rendah Remidi Tindak lanjut
1 a. Pengertian zakat Siswa mampu menjelaskan pengertian zakat Siswa berkeinginan untuk menghafal pengertian zakat Siswa mampu men-jawab pengertian zakat Guru menjelaskan materi, meminta siswa 

membaca kembali dan memahami materi dan mempergakan di depan kelas

Guru menjelaskan berulang, mengajukan pertanyaan, dan memintanya menyebutkan kembali di depan kelas, Siswa diminta membaca berulang (materi b), siswa diminta menyebutkan (materi c) Guru menjelaskan materi berulang, mengajukan pertanyaan dan siswa di minta untmembaca kembali, dan mencatatnya, kemudian menjelaskan ulang di depan kelas, Siswa diminta membaca berulang (materi b), siswa diminta menyebutkan (materi c)
b. Macam-macam zakat, yaitu zakat fitrah dan zakat mal Siswa dapat menjelaskan macam-macam zakat (mal, fitrah) Siswa berkeinginginan menjelaskan tentang macam-macam zakat Siswa mampu me-nyebutkan macam-macam zakat mal dan fitrah dengan benar
c. hukum mengeluarkan zakat Siswa dapat memahami hukum-hukum zakat Siswa ingin mengetahui hukum mengeluarkan zakat Siswa dapat menyebutkan perbedaan hukum zakat
d. ketentuan wajib zakat Siswa dapat memahami materi ketentuan wajib zakat Siswa berkeinginan berzakat Siswa dapat mengekspresikan materi di depan kelas
e. golongan yang berhak menerima zakat Siswa memahami materi secara mendalam Siswa berkepedulian terhadap golongan yang berhak menerima zakat Siswa dapat menyebutkan golongan yang berhak menerima zakat Golongan yang tidak berhak menerima zakat
Dengan benar
f. Golongan yang tidak berhak menerima zakat Siswa memahami materi secara mendalam antara yang berhak dan tidak berhak menerima zakat Siswa berkeinginginan menjelaskan tentang macam-macam zakat
2 a. Pengertian infak dan hukumnya Siswa mampu menjelaskan pengertian infak dan menyebutkan hukumnnya Siswa berkeinginan untuk menghafal pengertian infak dan hukumnya Siswa mampu menjawab pengertian infak dan memahami hukumnya dalam kehidupan sehari-hari Guru menjelaskan materi, dan memintanya meyebutkan kembali di depan kelas Guru menjelaskan berulang, mengajukan pertanyaan, meminta siswa membaca kembali dan memahami materi.
dan memintanya menyebutkan kembali di depan kelas.
Guru menjelaskan materi berulang, mengajukan pertanyaan dan siswa di minta untuk smembaca kembali, dan mencatatnya, kemudian menjelaskan ulang di depan kelas.
b. Manfaat dan kegunaan infak Siswa dapat menjelaskan macam-macam zakat (mal, fitrah) Siswa berkeinginginan menjelaskan tentang macam-macam zakat Siswa mampu me-nyebutkan macam-macam zakat mal dan fitrah dengan benar
c. Pengertian shadaqah dan hukumnya Siswa dapat menjelaskan macam-macam zakat (mal, fitrah) Siswa berkeinginginan menjelaskan tentang macam-macam zakat Siswa mampu me-nyebutkan macam-macam zakat mal dan fitrah dengan benar
d. rukun shadaqah Siswa dapat menjelaskan macam-macam rukun shadaqah Siswa berkeinginginan menjelaskan macam-macam rukun shadaqah Siswa mampu me-nyebutkan macam-macam rukun shadaqah dengan benar
e. Memberikan shadaqah Siswa dapat menjelaskan maksud materi memberikan shadaqah siswa berkeinginan bershadaqah Siswa dapat mengekspresikan materi memberikan shadaqahdi depan kelas
f. Manfaat dan kegunaan shadaqah Siswa dapat menjelaskan manfaat dan kegunaan shadaqah Siswa berkeinginginan menjelaskan manfaat dan kegunaan shadaqah Siswa mampu me-nyebutkan macam-macam manfaat dan kegunaan shadaqah
g. Perbedaan infak dan shadaqah Siswa memahami materi secara mendalam antara perbedaan infak dan shadaqah Siswa berkeinginginan menjelaskan  perbedaan infak dan shadaqah Siswa dapat menyebutkan perbedaaninfak dan shadaqah Dengan benar

PETA KONSEP


PETA KONSEP Zakat VS INFAK VS Shadaqah

MATERI

NON MATERI

SUNNAH

WAJIB

FITRAH

MAAL

Penjabaran Materi FIQIH Kelas IV MI


Standar Kompetensi  :

  1. Mengetahui ketentuan zakat

Kompetensi Dasar     :

1.1     Menjelaskan macam-macam zakat

1.2     Menjelaskan ketentuan zakat fitrah[1]

1.3     Mempraktikkan tata cara zakat fitrah

Uraian Materi :

  1. a. Pengertian zakat

Menurut Bahasa (lughat), zakat berarti : tumbuh; berkembang; kesuburan atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 11)

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (11)

Menurut Hukum Islam (istilah syara’), zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawiy) [2]

  1. Macam-macam zakat, yaitu zakat fitrah dan zakat mal[3]

ZAKAT FITRAH

Pengertian Zakat fitrah adalah zakat (shadaqah) jiwa, istilah tersebut diambil dari kata fitrah yang merupakan asal dari kejadian. Dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata : ”Rasulullah saw. Telah memfardhukan zakat fitrah 1 sha’ dari kurma atau gandum atas budak,orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Dan beliau perintahkan supaya dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Ied.” (HR. Bukhori).[4] Besaran yang harus dikeluarkan adalah 2,176 kg.

Waktu pembayaran : 1) Wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan, 2) Boleh mendahulukan atau mempercepat pembayaran zakat fitrah dari waktu wajib tersebut.

ZAKAT MAAL

Pengertian Zakat maal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh seseorang atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Menurut bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Menurut syar’a, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim).[5] Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu: a. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai b. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan Tghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.

Macam – Macam Zakat Maal

A. ZAKAT EMAS DAN PERAK

Syariat Islam memandang emas dan perak merupakan harta yang potensial disamping dapat berfungsi sebagai perhiasan yang indah, emas juga dapat berfungsi sebagai alat tukar dari masa ke masa. Oleh sebab itu syariat Islam memandang perlunya dikeluarkan zakat emas dan perak ini. Bahkan dalam Alquran disebut secara khusus dalam surat At-Taubah: 34-35,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah swt. maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari itu dipanaskan emas dan perak tersebut di neraka jahanam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka :”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) harta yang kamu simpan.”.

Ketentuan Zakat Emas dan Perak

Zakat Emas

(1) Nishab[6]zakat emas 85 gram emas, (2) Haul [7]selama 1 tahun, (3) Kadar yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5%, (4) Perhiasan yang wajib dikeluarkan zakat adalah perhiasan yang disimpan dan tidak dipakai,selain itu maka tidak wajib dikeluarkan zakat.

Cara Menghitung Zakat Emas / Perak

Contoh :

Ibu Fatma memiliki perhiasan emas sebanyak 150 gram, yang biasa dipergunakan adalah sebanyak 40 gram, setelah berjalan 1 tahun, berapa zakat yang harus dikeluarkannya?

Jumlah perhiasan emas = 150 gram

Yang dipergunakan = 40 gram

Emas yang disimpan = 150 – 40 = 110 gram

Nishab zakat emas adalah 85 gr

Perhiasan emas yang dimiliki oleh ibu Fatmah sudah wajib dizakati karena melebihi nishab dan mencapai haul. Cara menghitungnya adalah :

110 x 2,5% = 2,75 gram atau jika dnilai dengan uang adalah sebagai berikut : Jika harga 1 gram emas adalah Rp 100.000,- maka 110 gram emas = Rp 11.000.000,-, maka zakatnya adalah 11.000.000 x 2,5 % = Rp 275.000,-

Jadi zakatnya adalah 2,75 gr atau Rp 275.000,

Zakat Perak

(1) Nishab zakat perak adalah 595 gram, (2) Haul selama 1 tahun, (3) Kadar yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5%, (4) Cara penghitungan sama dengan penghitungan zakat emas.

B. ZAKAT PERTANIAN

Firman Allah swt. :

“Hai orang- orang yang beriman nafkahkanlah (zakat) dari sebagian hasil usahamu yang baikbaik dan sebagian hasil bumi yang kami (Allah) keluarkan untuk kalian”. (QS.Al-Baqarah: 267).

Ketentuan zakat pertanian

(1) Nishab zakat pertanian adalah 653 kg beras, Dari Jabir Rasulullah saw. Bersabda : “.Tidak wajib dibayar zakat pada kurma yang kurang dari 5 Ausuq.” (HR. Muslim) Ausuq jamak dari wasaq, 1 wasaq = 60 sha’, sedangkan 1 sha’ = 2,176 kg, maka 5 wasaq adalah 5x 60 x 2,176 = 652,8 kg, (2) Kadarnya sebanyak 5% jika menggunakan irigasi atau 10% dengan pengairan alami (tadah hujan). Hadits Nabi saw. :”yang diairi dengan air hujan ,mata air dn tanah zakatnya sepersepuluh (10%), sedangkan yang disirami zakatnya seperduapuluh (5%). (3) Dikeluarkan ketika panen Firman Allah swt. :

”…Dan bayarkanlah zakatnya di hari panen ….”

Cara penghitungan zakat pertanian

Contoh :

Bpk. Abdullah adalah seorang petani, sawahnya yang berjumlah 2 Ha ia tanami padi. Selama pemeliharaan ia mengeluarkan biaya sebanyak Rp 500.000,-. Ketika panen hasilnya sebanyak 10 ton beras. Berapa zakat yang harus dikeluarkannya ?

Jawab :

Ketentuan zakat hasil tani : (1) Nishab 653 kg beras, (2) Tarifnya 5%, (3) Waktunya : Ketika menghasilkan (Panen) Jadi zakatnya : Hasil panen 10 ton=10.000 kg (melebihi nishab) 10.000 x 5% = 500 kg. Jika dirupiahkan ; Jika harga jual beras adalah Rp 2.000,- maka 10.000 x 2.000 = Rp 20.000.000

20.000.000 x 5% = Rp 1.000.000,-

C. ZAKAT PERNIAGAAN

Pengertian

Zakat perniagaan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga.

Ketentuan zakat perniagaan

(1) Nishab zakat niaga adalah senilai dengan 85 gram emas, (2) Usaha tersebut telah berjalan selama 1 tahun, (3) Kadar yang dikelaurkan adalah 2,5%, (4) Dapat dinayarkan dengan uang atau barang, (5) Dikenakan pada perdagangan maupun perseroan

Cara penghitungan :

(Modal diputar + keuntungan + piutang) – (hutang + kerugian) x 2,5% = Zakat

Contoh : Ibu Azizah seorang pedagang kelontong, walaupun tokonya tidak begitu besar ia memiliki aset (modal) sebanyak Rp 6.000.000,- setiap harinya ia mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 3.000.000,- /bulan. Usaha itu ia mulai pada bulan Januari 2005, setelah berjalan 1 tahun pada bulan tersebut ia mempunyai piutang yang dapat dicairkan sebesar Rp 3.000.000,- dan hutang yang harus ia bayar pada bulan tersebut sebesar Rp 3.100.000,-.

Jawab

Zakat dagang dianalogikan kepada zakat emas, nishabnya adalah 85gr emas, mencapai haul dan dengan tarif 2,5%. Aset atau modal yang dimiliki Rp 6.000.000,- Keuntungan setiap bulan Rp 3.000.000,- x12 = 36.000.000,- Piutang sejumlah Rp 3.000.000,- Hutang sejumlah Rp 3.100.000,-

Penghitungan zakatnya adalah ;

(Modal + untung + piutang ) – (hutang ) x 2,5%= zakat

(6.000.000 + 36.000.000 + 3.000.000) – (3.100.000,-) x 2,5% = Rp 1.047.500,-

Jadi zakatnya adalah Rp 1.047.500,-

D. ZAKAT PROFESI

Pengertian

Zakat profesi atau zakat pendapatan adalah zakat harta yang dikeluarkan dari hasil pendapatan seseorang atau profesinya bila telah mencapai nishab. Seperti karyawan, dokter, notaries, dll. Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf(generasi terdahulu), oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khusunya yang berkaitan dengan “zakat”. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantra mereka (sesuai dengan ketentuan syara’). Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

Landasan syar’i zakat profesi

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآَخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (267)

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” (Q.S. Al Baqarah : 267)

Ayat diatas menunjukan lafadz atau kata yang masih umum ; dari hasil usaha apa saja, “…infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” dan dalam ilmu fiqh terdapat kaidah “Al “ibrotu bi Umumi lafdzi laa bi khususi sabab”, “bahwa ibroh (pengambilan makna) itu dari keumuman katanya bukan dengan kekhususan sebab.” Dan tidak ada satupun ayat atau keterangan lain yang memalingkan makna keumuman hasil usaha tadi, oleh sebab itu profesi atau penghasilan termasuk dalam kategori ayat diatas.

Pendapat Sahabat dan Tabi’in tentang harta penghasilan

Para ulama salaf memberikan istilah bagi harta pendapatan rutin/gaji seseorang dengan nama “A’thoyat”, sedangkan untuk profesi adalah “ Maal Mustafad”, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat, diantaranya Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz. Abu‘Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh penghasilan “Ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya.” Abu Ubaid juga meriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz memberi upah kepada pekerjanya dan mengambil zakatnya, …”[8]

Cara Mengeluarkan Zakat Profesi

Tetap dalam buku Qardhawi, mengatakan bahwa ulama-ulama salaf  berpendapat bahwa harta penghasilan wajib zakat, diriwayatkan terdapat dua cara dalam metode pengeluaran zakatnya:[9]

1. Az-Zuhri dalam Qardhawi mengatakan bahwa bila seseorang memperoleh penghasilan dan ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakatnya dating, maka hendaknya ia segera mengeluarkan zakat tersebut dari membelanjakannya, dan bila tidak ingin membelanjakannya maka hendaknya ia mengeluarkan zakatnya bersamaan dengan kekayaan yang lain-lain [10]

Beberapa pendapat yang muncul mengenai nishab dan kadar zakat profesi, yaitu :

  1. Menganalogikan secara mutlak zakat profesi kepada hasil pertanian, baik nishab maupun kadar zakatnya. Dengan demikian nishab zakat profesi adalah 653 kg beras dan kadarnya 5 % dan dikeluarkan setiap menerima.
  2. Menganalogikan secara mutlak dengan zakat perdagangan atau emas. Nishabnya 85 gram emas, dan kadanya 2,5% dan dikeluarkankan setiap menerima, kemudian penghitungannya diakumulasikan atau dibayar di akhir tahun.
  3. Menganalogikan nishab zakat penghasilan dengan hasil pertanian. Nishabnya senilai 653 kg beras, sedangkan kadarnya dianalogikan dengan emas yaitu 2,5 %. Hal tersebut berdasarkan qiyas atas kemiripan (syabah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yakni :
  • Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian).
  • Model bentuk harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang. Oleh sebab itu bentuk harta ini dapat diqiyaskan dalam zakat harta (simpanan/kekayaan) berdasarkan harta zakat yang harus dibayarkan (2,5 %).

Pendapat ketiga inilah yang diambil sebagai pegangan perhitungan. Ini berdasarkan pertimbangan lebih maslahah bagi muzaki dan mustahik. Mashlahah bagi muzaki adalah apabila dianalogikan dengan pertanian, baik nishab dan kadarnya. Namun, hal ini akan memberatkan muzaki karena tarifnya adalah 5 %. Sementara itu, jika dianalogikan dengan emas, hal ini akan kurang berpihak kepada mustahik karena tingginya nishab akan semakin mengurangi jumlah orang yang sampai nishab. Oleh sebab itu, pendapat ketiga adalah pendapat pertengahan yang mempehatikan mashlahah kedua belah pihak (muzaki dan mustahik). Adapun pola penghitungannya bisa dihitung setiap bulan dari penghasilan kotor menurut pendapat DR. Yusuf Qardhawi, Muhammad Ghazali dan lain-lain.[11] Dalam realitanya di Indonesia setiap penghasilan tetap sudah dikenakan pajak penghasilan (PPH) maka yang lebih realistis perhitungan zakatnya dari take home pay.

Contoh :

Bapak Ahmad adalah seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Setiap awal bulan ia mendapat gaji dari perusahaan tersebut (take home pay) sebesar Rp 6.000.000,-. Dari gaji tersebut beliau keluarkan untuk kebutuhan pokok, biaya rumah tangga (dapur) sebesar Rp 3.000.000,-, untuk sekolah 2 orang anaknya sebesar Rp 1.000.000,-, membayar cicilan rumah sebesar Rp 750.000,-, bayar telepon dan listrik 500.000,- Apakah bpk. Ahmad wajib membayar zakat ? Jelaskan !!

Jawab :

Bpk. Ahmad terkena kewajiban bayar zakat dengan penghitungan sebagai berikut 6.000.000 x 2,5% = Rp 150.000,-

E. ZAKAT UANG SIMPANAN ATAU DEPOSITO

  • Uang Simpanan dikenakan zakat dari jumlah saldo akhir bila telah mencapai nishab dan berjalan selama 1 tahun. Besarnya nishab senilai 85 gram emas. Kadar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5%.

Contoh:

Seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta terkenal membuka rekening tabungannya pada awal bulan Oktober 2003 sebesar Rp 8.500.000,- pada tanggal 24 Oktober ia menyimpan sebanyak Rp 2.000.000,- kemudian dua hari setelah itu ia menyimpan kembali sebanyak Rp 500.000,- pada bulan November ia mengambil untuk sebuah keperluan sebesar Rp 2.000.000,- lalu mulai bulan Januari sampai bulan September ia menyisihkan uangnya untuk ditabung setiap bulannya sebesar Rp 300.000,-

Jawab :

Zakat tabungan dianalogikan dengan zakat emas nishabnya adalah 85gr emas dan mencapai haul dengan tarif 2,5%.dihitung dari saldo akhir.

Saldo awal bulan Oktober 2003 Rp 8.500.000,-

Menabung pada 24 Oktober Rp 2.000.000,-

Menabung pada 26 Oktober Rp 500.000,-

Diambil pada bulan November Rp 2.000.000,-

Dari Januari s/d September Rp 300.000,- x 9 = Rp 2.700.000,-

Penghitunga zakatnya adalah 8.500.000 + 2.000.000 + 500.000 + 2.700.000 – 2.000.000x 2,5% = 292.500.

Jadi zakatnya adalah Rp 292.500,

  • Deposito

Zakat simpanan deposito dihitung dari nilai pokoknya. Misalnya seorang yang memiliki deposito pertanggal Rp 10.000.000 dengan jumlah bagi hasil selama setahun adalah Rp 350.000,- maka zakatnya adalah Rp 10.350.000 x 2.5 % = Rp 258.750.

F. ZAKAT PERUSAHAAN

Dalam menghitung zakat perusahaan, ketentuan dan cara menghitung zakatnya disetarakan dengan zakat perdagangan. Catatan: Apabila perusahaan menyertakan modal dari pegawai non muslim, maka penghitungannya setelah dikurangi kepemilikian modal atau keuntungan pegawai non muslim tersebut.[12]

G. ZAKAT INVESTASI

Zakat invesatasi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil investasi, seperti mobil, rumah, dan tanah yang disewakan. Dengan demikian zakat investasi dikeluarkan dari hasilnya bukan dari modalnya.

Contoh:

Hj. Azmi adalah seorang yang kaya raya, ia memiliki rumah kontrakan berjumlah 20 pintu, karena sifatnya yang dermawan, arif dan bijaksana, ia menyewakan rumah kontrakannya tidak terlalu mahal, perbulannya seharga Rp 200.000,-/rumah.. Setiap bulannya Hj Azmi mengeluarkan Rp 500.000,- untuk biaya perawatan seluruh rumah kontrakannya.

Jawab.

Penghasilan dari rumah kontrakan dianalogikan dengan zakat investasi, yaitu nishabnya senilai 653 kg beras dengan tarif 5% dari bruto dan 10% dari netto. Setiap bulannya Hj. Azmi memiliki penghasilan sebanyak 20 x 200.000 = Rp 4.000.000,- Ada 2 cara dalam menghitung zakatnya

- Bruto Rp 4.000.000 x 5% = 200.000 jadi zakatnya adalah Rp 200.000,-

- Netto 4.000.000 – 500.000 = 3.500.000 x 10% = 350.00, jadi zakatnya adalah Rp 350.000,-

H. ZAKAT HADIAH DAN SEJENISNYA

    1. Zakat Hadiah

Hadiah adalah sesuatu yang didapatkan oleh seseorang setelah ia sukses dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

  1. Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut nyaris tidak ada usaha jerih payah sama sekali baik tenaga maupun pikiran, maka hadiah tersebut mirip rikaz, zakatnya 20%.
  1. Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut tanpa usaha yang signifikan, zakatnya 10%.
  2. Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut ada usaha yang signifikan tetapi tidak dominan, zakatnya 5%.
  3. Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut ada usaha jerih payah baik tenaga maupun pikiran, seperti want’s to be a milioner, maka zakatnya 2,5%.
    1. Zakat Hibah

Hibah adalah suatu pemberian yang didapatkan oleh seseorang.

  1. Jika hibah tersebut tidak di duga-duga maka zakatnya 20%
  2. Jika hibah tersebut diduga tetapi tanpa ada kontribusi dari jasa yang langsung atau tidak dari penerima, maka zakatnya 10%
  3. Jika hibah tersebut diduga dan ada kontribusi jasa dari penerima, maka zakatnya 5%

I. ZAKAT PETERNAKAN

Syarat-syarat ternak

  1. Mencapai nishab
  2. telah dimiliki selama satu tahun
  3. Digembalakan
  4. Tidak dipekerjakan

A. Zakat Unta

Nisab Zakat
5 – 9
10 – 14
15 – 19
20 – 24
25 – 35
36 – 45
46 – 60
61 – 75
76 – 90
91 – 120
1 ekor kambing
2 ekor kambing
3 ekor kambing
4 ekor kambing
1 ekor anak unta betina (berumur 1 tahun lebih)
1 ekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih)
1 ekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)
1 ekor anak unta betina (berumur 4 tahun lebih)
2 ekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih)
2 ekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)

B. Zakat Kambing

Nisab Zakat
40 – 120
121 – 200
201 – 300
Setiap bertambah 100 ekor
1 ekor kambing
2 ekor kambing
3 ekor kambing
1 ekor kambing

C. Zakat Sapi

Nisab Zakat
30 – 39
40 – 59
60 – 69
70 – 79
1 ekor anak sapi jantan atau betina berumur 1 tahun
1 ekor anak sapi betina berumur 2 tahun
2 ekor anak sapi jantan atau betina berumur 1 tahun
2 ekor anak sapi betina berumur 2 tahun dan
1 ekor anak sapi jantan umur 1 tahun

J. Hasil penjualan rumah (properti) atau penggusuran

Harta yang diperoleh dari hasil penjualan rumah (properti) atau penggusuran, dapat dikategorikan dalam dua macam: 1. Penjualan rumah yang disebabkan karena kebutuhan, termasuk penggusuran secara terpaksa, maka hasil penjualan(penggusurannya) lebih dulu dipergunakan untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya. Apabila hasil penjualan (penggusuran) dikurangi harta yang dibutuhkan jumlahnya masih melampaui nishab maka ia berkewajiban zakat sebesar 2.5% dari kelebihan harta tersebut.[13]

c. Hukum Mengeluarkan Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

  1. c. Ketentuan Wajib Zakat[14]

Al-Quran

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz Dzariat : 19)

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)

“…Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya…” (QS. Al Hadid : 7)

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ (7)

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang

baik-baik, …” (Q.S. Al Baqarah : 267)

Al-Hadits

“Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan.” H.R. Thabrani

“Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu.” (H.R. Al Bazar dan Baehaqi)

Ijma’

Kesepakatan ulama baik salaf maupun khalaf bahwa zakat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam dan haram mengingkarinya.[15]

  1. golongan yang berhak menerima zakat[16]
  • Fakir

Orang yang tidak mepunyai mata pencaharian atau mempunyai mata pencaharian, tetapi penghasilannya tidak mencapai separo dari yang dibutuhkan.

  • Miskin

Orang yang mempunyai mata pencaharian dan penghasilannya mencapai separo atau lebi dari yang dibutuhka, namun belum mencukupinya.

  • Amil Zakat

Orang yang bertugas megelola zakat.

  • Hamba sahaya

Orang yang mempunyai hutang

  • Muallaf

Orang yang baru beberapa saat masuk agama Islam,atau orang yg diharapkan masuk Islam

  • Fii Sabilillah

Orang yang sedang berjuang untuk menegakkan agama

  • Ibnu Sabils

Orang yang sedang safar (perjalanan), sedang bekalnya tidak cukup

  1. Golongan yang tidak berhak menerima zakat[17]
  • Orang Kaya
  • Orang Yang mampu bekerja
  • Orang kafir yang memerangi
  • Orang atheis
  • Orang Murtad
  • Ahludzimmah
  • Istri, Bapak/Ibu keatas serta anak kebawah
  • Keluarga Nabi Muhammad SAW

Standar Kompetensi  :

2. Mengenal ketentuan infak dan shadaqah

Kompetensi Dasar     :

2.1 Menjelaskan ketentuan infak dan shadaqah

2.2 Mempraktikkan tata cara infak dan shadaqah

Uraian Materi :

a. Pengertian infak dan hukumnya

Infaq berasal dari kata anfaqo-yunfiqu, artinya membelanjakan atau membiayai, arti infaq menjadi khusu tatkala dikaitkan dengan upaya realisasi perintah-perintah Allah.  Infak diartikan pula membelanjakan sebagian harta yang kita miliki di jalan yang diridhai Allah SWT.[18] Jadi dapat disimpulkan bahwa Infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/ penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam atau untuk kemaslatan Islam sendri. Firman Allah SWT dalam Q. S. Ali-Imran : 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (92)

Dan Infaq hanya berkaitan dengan atau hanya dalam bentuk materi saja, adapun hukumnya ada yang wajib (termasuk dalam hal ini zakat, nadzar, dsb),ada infaq sunnah, mubah bahkan ada yang haram.[19]

b. Manfaat dan kegunaan infak

c. Pengertian shadaqah dan hukumnya

Shodaqoh secara bahasa dari kata shodaqa yang berarti benar. Jadi, shidaqah adalah sebuah tindakan yang bisa menjadi bukti akan kebenaran iman seseoarang.[20] Pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat non materiil (sebagaimana dalam peta konsep). Atau dapat pula berarti pemberian suatu benda oleh seseorang kepada yang lain dengan mengharap benar-benar hanya Ridho Allah (kesimpulan pengertian dari infak plus arti shadaqah secara bahasa). Dalam Al-Quran Q.S 2;72, sebgai berikut :

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ (272)

Bukan pada dirumu petunjuk mereka, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki, dan apa saja yang kamu infakkan untuk kebaikan maka balasannya adalah untukmu, dan apa saja yang kalian infaqkan untuk mencari ridho Allah  dan apa saja yang kalian infaqkan berupa untuk kebaikan maka akan dibalas kepada kalian dan kalian tidak akan di dzolimi.

Dan menurut Al-Qadhi abu bakar bin Arabi, benar disini adalah benar dalam hubungan dengan sejalannnya perbuatan dan ucapan serta keyakinan. Dalam makna seperti inilah, shadaqah diibaratkan dalam hadist : “ Dan shadaqah itu merupakan Burhan (Bukti)”.(HR. Muslim).

Adapun hukum shadaqah ialah antara wajib dan sunnah, diantara shidaqah wajib adalah zakat.

d. rukun shadaqah

e. Memberikan shadaqah

f. Manfaat dan kegunaan shadaqah

Shadaqah adalah pemberian dari seorang muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah (Haul dan Nisab) sebagai kebaikan yang dilakukan seorang muslim.

Bershadaqah merupakan aktifitas seorang muslim yang memiliki sifat utama. Bahkan ketinggian derajatnya ditentukan oleh sebesar dan sejauhmana memiliki kepedulian dan kepekaan sosial kepada muslim lainnya.

Ada beberapa hal penting dan keutamaan yang perlu diperhatikan berkenaan dengan shadaqah. Pertama, bershadaqah mesti dalam keadaan sehatdan keingininan yang kuat,sebab jika dilaksanakan pada keadaan menjelang kematian tidak ada gunanya. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan, ada seseorang berkata pada Nabi Saw : “ Sedekah yang mana yang lebih utama itu”? nabi bersabda :”engkau bershadaqah dalam keadaan sehat (shahih) dan berkeinginan(harish)”. Kedua ada jaminan syurga dari Allah karena shadaqah akan melindunginya di hari perhitungan. Dalam riwayat Ibnu Hibban dan Hakim dari Uqbah ia mendengar rasulullah bersabda :”setiap orang bernaung dibawah perlindungan shadaqah hingga ditetapkan hisab (perhitugan) di antar manusia di yaumil akhirat”. Ketiga, jika kita berikan dibulan ramadhan maka ganjarannya sebanyak orang yang berpuasa. Hadits dari Zaid bin Khalid Al-Juhny yang diriwayatkan oleh turmudzi, bahwa rasulullah bersabda :” Barangsiapa memberi makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia mendapat ganjaran sebanyak orang yang berpuasa, tidak kurang sedikitpun.

g. Perbedaan infak dan shadaqah

Kalau infaq hanya berkaitan dengan materi, maka shadaqah bisa berupa materi, tapi juga bisa berupa sebuah kebaikan an antara infak, zakat dan sedekah : nfak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/ penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Jka zakat ada nisabnya, infak tidak mengenal nisab. Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf) maka infak boleh diberikan kepada siapapun juga, misalnya untuk kedua orangtua, anak yatim, dan sebagainya (Q.S. Al-Baqarah: 215).

Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (Q.S Ali Imran: 134). engertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat non materiil.

HR Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-isteri, dan melakukan  kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah. Seringkali kata-kata sedekah dipergunakan dalam Al Qur’an, tetapi maksud sesungguhnya adalah zakat, (Q.S At-Taubah: 60 dan 103). Jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan sekali untuk berinfak atau bersedekah. Berinfak adalah ciri utama orang yang bertakwa (al-Baqarah: 3 dan Ali Imran: 134), ciri mukmin yang sungguh-sungguh imannya (al-Anfal: 3-4), ciri mukmin yang mengharapkan keuntungan abadi (al-Faathir: 29). Berinfak akan melipatgandakan pahala di sisi Allah (al-Baqarah: 262).

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Q.S.Al An’am 6: 55)

ANALISIS MATERI PAI III (FIQIH)

KELAS IV SEMESTER GANJIL MADRASAH IBTIDAIYAH

Peningkatan mutu pendidikan adalah sebuah keniscayaan jika suatu bangsa ingin tetap eksis dalam persaingan di era global. Sebagaimana penjelasan E. Mulyasa bahwa era globalisasi merupakan masa yang penuh tantangan dan ketidakpastian sehingga diperlukan pendidikan yang kompetitif yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap materi PAI untukperubahan yang lebih baik. Dan dalam pembahasan kali ini penulis melakukan analisis materi berdasarkan buku paket Mengenal Fikih 4 untuk kelas IV MI PT Tiga Serangkai Karya Mandiri, dari tabel di atas pun dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. 1. Penyusunan materi masih ada perbedaan dengan kompetensi dasar kurikulum. Meskipun standar kompetensinya sudah sesuai. Dan dalam penjelasan makalah ini penulis hanya menjelaskan KD 1 karena dalam KD 2 dan 3 terdapat di Bab lain, yang jika dibahas di sini akan lebih panjang penjelasannya
  2. 2. berdasarkan kesulitan materi, materi b (macam-macam zakat) diberikan alokasi waktu paling banyak, karena substansi  materi sulit meskipun untuk siswa yang berkemampuan tinggi, selain banyak macamnya  juga ada ketentuan seperti berapa jumlah yang seharusnya dikeluarkan
  3. 3. Sementara itu, dalam perspektif psikologis, jika melihat substansi standar kompetensi dan kompetensi dasar dari SK dan KD bisa diamati bahwa substansi materinya nampak tidak tepat untuk anak seusia mereka. Selain materi cukup sulit dan lebih cocok untuk anak usia kelas VI MI, materi cenderung membosankan karena terdapat materi menghitung, padahal anak sudah dibebani dengan kesulitan materi. Mungkin materi dianggap tepat penempatannya karena materi sesudahnya adalah tentang sholat idain. Sehingga menurut penulis seharusnya materi zakat yang diberikan cukup zakat fitrah saja, untuk zakat mal diberikan di kelas VI MI
  4. 4. Dari segi Sosiologis, materi dapat diterima untuk anak kelas IV MI karena materi zakat fitrah cukup akrab di lingkungan mereka terutama di bulan Ramadhan, tetapi untuk materi zakat mal masih perlu pengertian dari guru, kecualli bagi mereka yang lingkungan keluarga kaya dan mengerti tentang zakat mal dan mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat.
  5. 5. dari Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (dalam buku) terdapat keseimbangan karena adanya penjelasan teoritik dan praktek. Hal tersebut dapat di buktikan dengan adanya penjelasan dalil aqli, contoh di masyarakat, pemberian tugas, dan game yang menyenangkan sehingga murid menjadi lebih cepat menerima materi dari  Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorinya.
  6. 6. untuk evaluasi adalah yang paling penarik, karena pertanyaan menimbulkan siswa berpikir kritis, dan disajikan dengan macam-macam game (tts, puzle) sehingga siswa lebih menikmati test tersebut tanpa adanya beban mental. Begitu pula dengan tanya jawab yang membuat siswa berpikir kreatif dan menambah pengetahuannya.
  7. 7. Kompetensi mata pelajaran fiqih pada materi zakat (dalam kenyataan) nampak hanya berkaitan dengan ranah kognisi dan psikomotor, sedang ranah afeksi masih kurang tersentuh. Walaupun adanya praktek dalam materi tapi kenyataannya dalam pembelajaran materi zakat hal tersebut masih kurang diperhatikan sehingga siswa masih ada yang tidak mengerti tata cara zakat

KESIMPULAN DAN APRESIASI.

Dari penjelasan tersebut, sedikit penulis dapat memberikan tanggapan bahwa buku telah sesuai dengan KTSP walaupun ada penyimpangan SK dan KD dari yang telah disediakan di kurikulum. Tetapi terlepas dari itu, penulis dapat menangkap maksud dari buku, buku lebih memilih penjelasan lebih agar siswa lebih memahami materi. Buku juga dapat diterima dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari segi bahasa pun buku dapat diterima psikologis anak. Walaupun perlu juga pengertian dari guru dengan bahasa yang lebih. Sehingga guru dituntut lebih kreatif dan menguasai materi. Begitulah adanya penjelasan penulis. Kami tentu saja menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga saran dan kritik dari semua pihak sangat kami tunggu demi kesempurnaannya. Terimakasih. Dan semoga bermanfaat, agar kita dapat berfikir secara kritis dan pandai dalam menggunakan waktu. Wallahu a’lam

Referensi :

Mengenal Fikih 4 untuk kelas IV MI, Abdul Mughni. PT Putratama Bintang Timur, Surabaya :2009.

Editor Dr. K.H.M Hamdan Rasyid, MA, Fiqih Indonesia (himpunan Fatwa-fatwa Aktual). Cetakan 1.  PT Al mawardi Prima Agustus 2003. Jakarta hal 96-101

Sayyid Sabiq, penerjemah Noer Hasanudian, Lc, MA ,dkk. Fiqih Sunnah Jilid 1. Pena Pundi Aksara. Jakarta Selatan : Cetakan 1, Maret 2006 Hal 497

Ustad Agung Cahyadi, MA.

DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat. Diterjemahkan Dr. Salman harun, dkk. Litera Antar Nusa

Fathul Bari, Juz 3 : 366

Panduan zakat

Ibnu Abi Syaibah, Al-Musharif, jilid 4


[1]Editor Dr. K.H.M Hamdan Rasyid, MA, Fiqih Indonesia (himpunan Fatwa-fatwa Aktual). Cetakan 1.  PT Al mawardi Prima Agustus 2003. Jakarta hal 96-101

[2] Sayyid Sabiq, penerjemah Noer Hasanudian, Lc, MA ,dkk. Fiqih Sunnah Jilid 1. Pena Pundi Aksara. Jakarta Selatan : Cetakan 1, Maret 2006 Hal 497

[3] Sayyid Sabiq, penerjemah Noer Hasanudian, Lc, MA,dkk. Fiqih Sunnah Jilid 1. Pena Pundi Aksara. Jakarta Selatan : Cetakan 1, Maret 2006 Hal 516

[4] Fathul Bari, Juz 3 : 366

[5] Panduan zakat

[6] Nishab ialah istilah Fikih tentang jumlah tertentu dalam harta kekayaan yang wajib dikenakan zakatnya, contohnya 20 mitsqal atau 85 gram emas, 5 wasaq atau 653 kg beras dan lain-lain.

[7] Haul ialah isltilah Fikih tentang masa kepemilikan harta kekayaan yang wajib dikenakan zakatnya, persyaratan ini hanya diperuntukkan bagi ternak, uang dan harta benda dagang atau yang dapat dimasukan ke dalam istilah “zakat modal”, Tetapi hasil pertanian, buah-buahan, madu, logam mulia, harta karun dan lain-lainnya yang sejenis tidak dipersyaratkan satu tahun dan semuanya dimasukan ke dalam istilah “zakat pendapatan”. (DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat ; 161).

[8] DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : 469-472

[9] DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : 484-485

[10] Ibnu Abi Syaibah, Al-Musharif, jilid 4 : 30

[11] DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : 480-481

[12] DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : 491-501

[13] DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : 381

[14] Sayyid Sabiq, penerjemah Noer Hasanudian, Lc, MA,dkk. Fiqih Sunnah Jilid 1. Pena Pundi Aksara. Jakarta Selatan : Cetakan 1, Maret 2006 Hal 499

[15] H Uyun Kamiludin, Menyorot Ijtihad PERSIS (Fungsi dan Peranannya dalam Pembinaan Hukum Islam di Indonesia. Tafakkur. Bandung. Cet 1 Mei 2006 Hal 90, 91, -96

[16] Sayyid Sabiq, penerjemah Noer Hasanudian, Lc, MA,dkk. Fiqih Sunnah Jilid 1. Pena Pundi Aksara. Jakarta Selatan : Cetakan 1, Maret 2006 Hal 508

[17] Sayyid Sabiq, penerjemah Noer Hasanudian, Lc, MA,dkk. Fiqih Sunnah Jilid 1. Pena Pundi Aksara. Jakarta Selatan : Cetakan 1, Maret 2006 Hal 578

[18] Mengenal Fikih 4 untuk kelas IV MI, Abdul Mughni. PT Putratama Bintang Timur, Surabaya :2009. h.56

[19] Ustad Agung Cahyadi, MA. Hal 2

[20] DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat

About these ads
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.